“ternyata indah sekali bintang malam ini,
jarang-jarang di Jakarta banyak bintang kayak begini” aku menatap ke atas
langit dan mengucapkan kekaguman akan indah nya mala mini.
“jadi lo masih mau pindah Ke?” Tanya seorang teman
yang seharian menemani ku di rumah, Asra.
“Iya Ca, gue tetep pindah. Setelah kepergian ortu
gue gara-gara kecelakaan pesawat itu, rumah jadi sepi. Gue juga gak ada sodara
di Jakarta. Semuanya di Semarang.” Kata ku.
“Ya Ke, kan masih ad ague. Masih ada keluarga gue,
kita kan udah dari kecil bareng-bareng.”
“haha iya Ca, ngerti kok. Tapi ya gue gak bisa dong
terus-terusan ngerepotin keluarga lo, gue gak enak kali. Lagian kalo liburan
gue sempet-sempetin ke Jakarta kok.”
“Ah yaudah deh, semoga lo bisa seneng tinggal di
Semarang”
“Iya Ca, makasih. Baik-baik lo disini, jangan
macem-macem gak ad ague.”
“Yeee.. emang gue mau ngapain sih hahaha”
“Gue berangkat jam 7 pagi Ca”
“Loh? Bukannya jam 10 pagi?”
“Gue percepat Ca, gue mau cepet-cepet sampai
Semarang. Bukannya lebih cepat lebih baik ya?”
“Iyasih tapi kan jadinya gue gak bisa anter lo Ke”
“Yaelah haha gapapa kali Ca, lo kan udah nemenin gue
seharian disini.”
“Gue masih kangen kali Ke sama lo”
“Haha sejak kapan lo jadi begini sih Ca”
“Sejak lo bilang mau ke Semarang”
“Hahahaha cieeeeee”
Kami berdua
larut dalam tawa, tawa yang mungkin untuk terakhir kalinya. Karena aku mungkin
tidak akan kembali ke Jakarta. Tapi aku harap, persahabatan jarak jauh kami
tidak akan menjadi masalah.
“Hati-hati ya Ke” ucap seorang wanita berumur
kira-kira 40 tahunan, Tante Dian, ibu dari sahabat ku Asra.
“Iya tante makasih yaa, maaf kalo selama ini aku
ngerepotin”
“Ngerepotin apasih Ke? Tante sama mama kamu kan
temenan udah lama, jadi kamu udah tante anggap sebagai anak juga.”
“Iya tante makasih ya.”
“Kamu di Semarang sama siapa Ke?” Tanya seorang
laki-laki, Om Agus. Suami dari tante Dian sekaligus ayah dari Asra.
“Sama sodara Om, Pakde Tatuk.”
“Oh Pak Tatuk yang sering datang ke rumah tiap bulan
itu ya?”
“Iya Om”
“Yaudah kamu hati-hati ya disana. Jaga diri, kalo
kamu gak betah balik lagi aja ke Jakarta, pintu rumah kita terbuka kok buat
kamu.”
“Iya Om, makasih banyak ya. Om sama tante udah baik
banget sama keluarga aku. Oiya Asra mana om?” Tanya ku sambil mencuri pandangan
ke lantai atas, kamar Asra.
“Loh gak tau, bukannya dia di rumah kamu seharian
kemarin ya?”
“Iyasih om, terus tadi pagi Asra pamit pulang
duluan. Hmm.. ya mungkin dia ke sekolah om, soalnya di sekolah lagi ada acara. Dia
kan jadi panitia nya.”
“Oh gitu, terus gimana? Mau nungguin dia dulu?”
“Engga deh om, aku mau langsung pamit aja. Salam aja
buat Asra ya om, tante.”
“Iya Ke, kasih kabar ya kalau sudah sampai Semarang”
“Iya pasti tante hehe.. aku pamit yaa”
“Iyaa hati-hati.”
Taksi
yang ku pesan mulai berjalan perlahan, aku menatap 2 rumah. Rumah ku dan rumah
Asra. Aku melambaikan tangan pada kedua orang yang ku sayangi setelah mama dan
papa. Cinta dan sayang yang mereka beri sama dengan cinta dan kasih sayang yang
diberi mama dan papa. Aku menatap sedih, Asra tidak ada disana. Tapi aku
mengerti, memang dia sedang sibuk. Taksi ku mulai berjalan cepat, aku
memandangi jalanan yang selalu aku lewati bersama Asra saat berangkat sekolah. Senyum
tipis dari bibirku dan linangan air yang mulai turun dari sudut mata. Seakan
tidak mau pergi jauh tapi harus pergi.
Setelah
satu jam setengah aku sampai di stasiun, langkah berat memasuki pintu utama
stasiun. Jujur, aku masih berharap ada Asra disini. Teman main kecil ku. Sahabat
terbaik untukku. Aku menoleh ke belakang berharap ada sesosok perempuan memakai
baju seragam SMA nya berlari kecil melambaikan tangan dan memelukku. Namun ternyata
itu hanya fantasi yang indah. Aku melanjutkan langkah kaki memasuki stasiun. Aku
duduk manis menunggu kereta yang ternyata masih satu jam lagi tiba. Aku mengambil handphone dan
menekan nomor seseorang, Asra. Namun nihil, handphone nya tidak aktif. Berkali-kali
hanya operator yang menjawab. BBM nya pun hanya ceklis. Sejenak aku teringat,
biasanya hp nya selalu di matikan saat ada acara.
“Dasar Asra” gumam ku.
Dari kejauhan
aku melihat seorang anak laki-laki memakai seragam sekolah ku berlari, ternyata
mendekatiku. Dia adalah Ridho, ketua kelas di kelas ku.
“Lo ngapain kesini Do? Kok lo lari-lari? Acara di
sekolah udah selesai?”
Laki-laki
yang bertubuh tinggi berdiri di depan ku, mencoba untuk mengatur nafas nya yang
terengah engah.
“Keke..” dia mulai bicara dengan nada rintih, wajah
pucat sehabis berlari dan gambaran ekspresi bingung, sedih, dan lelah terbaca
semua di wajahnya.
“kenapa Do? Lo sendirian? Asra gak ikut sama lo ya?”
Tanya ku
“Gue mau kasih ini ke lo Ke, ini dari Asra. Dia mau
lo pake sekarang.” Kata Ridho.
“Kenapa gak Asra yang kasih langsung ke gue? Dia sibuk
banget ya?” Tanya ku sambil ku buka bungkusan yang ternyata sebuah jaket warna
biru dan ku pakai langsung. Senyum ku mengembang dan aku meminta agar Ridho memfoto
ku agar Asra lihat kalau kado nya sudah sampai pada ku.
“makasih Ridho, sebentar lagi kereta gue dateng,
sampaikan salam sama anak-anak dan Asra ya.” Ucap ku.
“Ke..”
“Iya?”
“Gue bingung mau cerita darimana.”
“Kenapa Do?”
“Soal Asra.”
“Asra kenapa? Jangan setengah-setengah dong
ceritanya.”
“Asra jatuh dari tangga Ke, dan saat di bawa ke RS
nyawa nya gak tertolong. Saat di perjalanan ke rumah sakit, dia kasih gue kado
ini. dia nyuruh gue buat kasih ke lo. Juga tulisan terakhir ini buat lo. Gue harap
lo bisa sabar ya Ke, ikhlasin Asra.”
“gak mungkin, Asraaa..” rintih ku, aku menangis
sejadi-jadinya. Sekujur tubuh ku lemas, aku terjatuh dan menangis.
“Perhatian
semuanya, kepada penumpang yang akan berangkat ke Semarang kereta telah tiba di
jalur 2. Sekali lagi kereta yang menuju semarang berada di jalur 2”
“Ke, kereta lo udah dateng.” Ridho menyadarkan ku
dari tangis ku. Aku mencoba berdiri namun payah badan ku lemas.
“Do, gue mau ketemu Asra”
“Sorry Ke, gue disuruh Asra buat cegah lo jenguk
dia. Lo harus tetep pergi ke Semarang”
“Tapi Do.”
“Ke, Asra bilang ke gue. Apapun yang terjadi lo
harus tetep pergi Ke, Asra akan selalu ada di deket lo kok. Memperhatikan lo
dari jauh. Dengan jaket yang dia kasih ini ke lo, itu tanda nya dia sayang lo
Ke. Kalau lo gak jadi ke Semarang, lo gak sayang sama Asra.”
Tangis
ku pecah seketika, aku menyeka dengan tangan dan mencoba bangkit. Aku hapus air
mata ku dan melangkah berjalan memasuki kereta. Aku duduk di dekat jendala, di
luar sana Ridho masih berdiri. Sesaat kemudian kereta mulai berjalan pelan, aku
melambaikan tangan ku ke Ridho dengan senyum yang sakit. Iya sakit, kehilangan
sahabat kecil dan kesempatan untuk bicara dengannya sudah tidak ada lagi.
Aku membuka
sebuah surat yang kata Ridho di tulis oleh Asra di saat-saat terakhirnya.
“Dear Keke..
Hai sahabat gue,
maaf sekali gue tidak bisa anter lo sampai stasiun, iya lotahu?? Sikap ceroboh
gue gak pernah hilang dan akhirnya gue sendiri yang dapat musibah nya hehe. Buat
lo yang mungkin lagi duduk manis di kereta hati-hati di jalan ya. Ini gue kasih
jaket, di pake ya biar gak masuk angin. Terimakasih atas persahabat yang indah.
Dari kecil sampai sekarang masih lo yang terbaik. Doain gue ya, biar gue sampai
di surge dan ketemu sama ortu lo. Biar kita bisa bareng-bareng merhatiin lo
dari surga sini. Kalo udah nyampe di Semarang, lo langsung liat ke langit dan
bilang kalo lo udah sampe. Have fun disana yaa. Semoga bisa betah di Semarang. Salam
buat pakde tatuk disana ya. Love you.
Sekali lagi maaf
ya Keke.
-Asra-
Air mata ku mengalir deras, aku melihat keluar
jendela kereta dan melihat hujan mulai turun.
“Lo tau Ca? langit aja nangis lo pergi..”
-END-
ddpw