Sunday, November 30, 2014

Selamat malam buat tuan ku

Hai Tuan, sudah tidurkah kamu? Aku sudah ingin tidur dan aku yakin kamu tidak peduli mau aku tidur cepat atau tidak. Memang nya aku siapa mu? Haha
Malam ini tiada bintanng, mereka sembunyi di mendungnya langit. Bulan pun tak nampak. Ternyata langit yang mendung menutupi semua cahaya langit malam.

Mata gadis ini sayup-sayup, hanya untuk menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat malam buat kamu. Iya kamu, tuan terindah. Yang dulu terindah sekarang pun msaih jadi yang paling indah.
Tapi tidak seindah dulu.

Rasa itu berkurang, namun masih mengagumi.
Entah sampai kapan perasaan ini ada, sekali lagi aku bilang pada mu tuan, dibalik kesibukkan yang aku lakukan tersimpan kekuatan untuk melupakanmu. Namun semakin aku mencoba lupakan, kamu selalu membuat ku galau.

Hiperbola mungkin gadis ini tuan, tapi jatuh cinta itu bisa membuat semuanya berlebihan kan? :)

Tulisan

Hari Minggu yang membosankan buat ku, tidak seperti biasanya walaupun tidak ada kegiatan setidaknya aku bisa menghabiskan minggu ini dengan bermain game. tapi entah kenapa aku bosan.
Penulis amatiran ini mulai jenuh dengan kehidupannya yang biasa-biasa saja. Mau mencoba untuk melakukan sesuatu yang luar biasa namun geraknya terbatas.

Aku kembali pada blog ini, iya blog yang ku buat 2 tahun lalu. Aku senang dengan blog ini, mau frontal seperti apapun selama tidak ada yang baca sepertinya tidak masalah. Dan aku harap blog ini terkenal setelah aku menjadi penulis seperti Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi nya, Agnes Davonar dengan Surat Kecil untuk Tuhan dan Ayah, mengapa aku berbeda?
Jujur aku tidak pernah membaca buku Laskar Pelangi, kalaupun ku baca itu tidak sampai selesai. Aku hanya menonton film nya dan itu bagus.
Surat Kecil Untuk Tuhan yang sukses membuat ku menangis, aku tidak terlalu suka film nya karena tidak sesedih di novel. Dan, Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Aku senang bagian puisinya, itu indah.

Oh iya, aku juga senang dengan penulis Dwitasari, Aku suka cerpennya, seperti Selamat Ulang Tahun untuk yang selalu terasa jauh.

Dan yang aku tahu, menulis itu tidak semuah yang orang pikirkan. Harus benar-benar memiliki mood yang baik jika tidak tulisannya akan terhenti.

Seperti kamu, yang ingin aku tulis di blog ini. hmm sudah ya? aku sudah menulis nama mu di blog ini.

Buat Kamu

Hai apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja ya. Kamu tahu? Sudah satu tahun lebih tidak bertemu, komunikasi pun juga sudah tidak, tapi apa kamu tahu satu hal? Aku disini masih mengagumi mu. Kenapa? Jangan pernah tanya kenapa, karena yang memberi rasa itu bukan aku, tapi Tuhan dengan segala kuasa-Nya menciptakan rasa indah namun sakit.

Kamu, sebuah nama yang seharusnya tidak boleh ku sebut sampai tanggal 31 Desember nanti.
Terlalu singkat namun indah cerita yang kamu tulis di kertas kehidupan ku. Masih ku ingat mata kita saling bertatapan. Sesaat bercanda dan akhirnya aku menemukan bahwa aku jatuh cinta padamu.

Aku mungkin perempuan bodoh, yang mengisi titik titik dalam soal tanpa tahu soalnya apa. seperti menunggu entah apa yang di tunggu.
Tapi aku mulai ikhlas, iya ikhlas mengagumi mu dari jauh. Ikhlas dengan kesibukan yang aku punya untuk melupakanmu. Kamu tahu? Dibalik kesibukan yang aku punya ada sesuatu yang ingin aku lupakan.

Dan sebentar lagi bulan Desember, hanya menunggu waktu sebulan untuk tanggal 31. Dan akhirnya 2 tahun sudah kita tidak bertemu, tanpa saling sapa di social media. Tapi perempuan ini masih mengagumi mu. Aku hanya berharap setelah tanggal itu, aku bisa benar-benar melupakanmu.

Terimakasih untuk sebuah kata indah yang pernah kau berikan padaku, dan sikap yang membuat ku seperti melayang di udara. Mungkin kamu lupa, tapi setidaknya aku sampaikan rasa terimakasih ini pada hujan yang turun di malam ini.


Thursday, November 27, 2014

“Lo tau Ca? langit aja nangis lo pergi..”

“ternyata indah sekali bintang malam ini, jarang-jarang di Jakarta banyak bintang kayak begini” aku menatap ke atas langit dan mengucapkan kekaguman akan indah nya mala mini.
“jadi lo masih mau pindah Ke?” Tanya seorang teman yang seharian menemani ku di rumah, Asra.
“Iya Ca, gue tetep pindah. Setelah kepergian ortu gue gara-gara kecelakaan pesawat itu, rumah jadi sepi. Gue juga gak ada sodara di Jakarta. Semuanya di Semarang.” Kata ku.
“Ya Ke, kan masih ad ague. Masih ada keluarga gue, kita kan udah dari kecil bareng-bareng.”
“haha iya Ca, ngerti kok. Tapi ya gue gak bisa dong terus-terusan ngerepotin keluarga lo, gue gak enak kali. Lagian kalo liburan gue sempet-sempetin ke Jakarta kok.”
“Ah yaudah deh, semoga lo bisa seneng tinggal di Semarang”
“Iya Ca, makasih. Baik-baik lo disini, jangan macem-macem gak ad ague.”
“Yeee.. emang gue mau ngapain sih hahaha”
“Gue berangkat jam 7 pagi Ca”
“Loh? Bukannya jam 10 pagi?”
“Gue percepat Ca, gue mau cepet-cepet sampai Semarang. Bukannya lebih cepat lebih baik ya?”
“Iyasih tapi kan jadinya gue gak bisa anter lo Ke”
“Yaelah haha gapapa kali Ca, lo kan udah nemenin gue seharian disini.”
“Gue masih kangen kali Ke sama lo”
“Haha sejak kapan lo jadi begini sih Ca”
“Sejak lo bilang mau ke Semarang”
“Hahahaha cieeeeee”
          Kami berdua larut dalam tawa, tawa yang mungkin untuk terakhir kalinya. Karena aku mungkin tidak akan kembali ke Jakarta. Tapi aku harap, persahabatan jarak jauh kami tidak akan menjadi masalah.

“Hati-hati ya Ke” ucap seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan, Tante Dian, ibu dari sahabat ku Asra.
“Iya tante makasih yaa, maaf kalo selama ini aku ngerepotin”
“Ngerepotin apasih Ke? Tante sama mama kamu kan temenan udah lama, jadi kamu udah tante anggap sebagai anak juga.”
“Iya tante makasih ya.”
“Kamu di Semarang sama siapa Ke?” Tanya seorang laki-laki, Om Agus. Suami dari tante Dian sekaligus ayah dari Asra.
“Sama sodara Om, Pakde Tatuk.”
“Oh Pak Tatuk yang sering datang ke rumah tiap bulan itu ya?”
“Iya Om”
“Yaudah kamu hati-hati ya disana. Jaga diri, kalo kamu gak betah balik lagi aja ke Jakarta, pintu rumah kita terbuka kok buat kamu.”
“Iya Om, makasih banyak ya. Om sama tante udah baik banget sama keluarga aku. Oiya Asra mana om?” Tanya ku sambil mencuri pandangan ke lantai atas, kamar Asra.
“Loh gak tau, bukannya dia di rumah kamu seharian kemarin ya?”
“Iyasih om, terus tadi pagi Asra pamit pulang duluan. Hmm.. ya mungkin dia ke sekolah om, soalnya di sekolah lagi ada acara. Dia kan jadi panitia nya.”
“Oh gitu, terus gimana? Mau nungguin dia dulu?”
“Engga deh om, aku mau langsung pamit aja. Salam aja buat Asra ya om, tante.”
“Iya Ke, kasih kabar ya kalau sudah sampai Semarang”
“Iya pasti tante hehe.. aku pamit yaa”
“Iyaa hati-hati.”
          Taksi yang ku pesan mulai berjalan perlahan, aku menatap 2 rumah. Rumah ku dan rumah Asra. Aku melambaikan tangan pada kedua orang yang ku sayangi setelah mama dan papa. Cinta dan sayang yang mereka beri sama dengan cinta dan kasih sayang yang diberi mama dan papa. Aku menatap sedih, Asra tidak ada disana. Tapi aku mengerti, memang dia sedang sibuk. Taksi ku mulai berjalan cepat, aku memandangi jalanan yang selalu aku lewati bersama Asra saat berangkat sekolah. Senyum tipis dari bibirku dan linangan air yang mulai turun dari sudut mata. Seakan tidak mau pergi jauh tapi harus pergi.
          Setelah satu jam setengah aku sampai di stasiun, langkah berat memasuki pintu utama stasiun. Jujur, aku masih berharap ada Asra disini. Teman main kecil ku. Sahabat terbaik untukku. Aku menoleh ke belakang berharap ada sesosok perempuan memakai baju seragam SMA nya berlari kecil melambaikan tangan dan memelukku. Namun ternyata itu hanya fantasi yang indah. Aku melanjutkan langkah kaki memasuki stasiun. Aku duduk manis menunggu kereta yang ternyata masih satu  jam lagi tiba. Aku mengambil handphone dan menekan nomor seseorang, Asra. Namun nihil, handphone nya tidak aktif. Berkali-kali hanya operator yang menjawab. BBM nya pun hanya ceklis. Sejenak aku teringat, biasanya hp nya selalu di matikan saat ada acara.
“Dasar Asra” gumam ku.
          Dari kejauhan aku melihat seorang anak laki-laki memakai seragam sekolah ku berlari, ternyata mendekatiku. Dia adalah Ridho, ketua kelas di kelas ku.
“Lo ngapain kesini Do? Kok lo lari-lari? Acara di sekolah udah selesai?”
          Laki-laki yang bertubuh tinggi berdiri di depan ku, mencoba untuk mengatur nafas nya yang terengah engah.
“Keke..” dia mulai bicara dengan nada rintih, wajah pucat sehabis berlari dan gambaran ekspresi bingung, sedih, dan lelah terbaca semua di wajahnya.
“kenapa Do? Lo sendirian? Asra gak ikut sama lo ya?” Tanya ku
“Gue mau kasih ini ke lo Ke, ini dari Asra. Dia mau lo pake sekarang.” Kata Ridho.
“Kenapa gak Asra yang kasih langsung ke gue? Dia sibuk banget ya?” Tanya ku sambil ku buka bungkusan yang ternyata sebuah jaket warna biru dan ku pakai langsung. Senyum ku mengembang dan aku meminta agar Ridho memfoto ku agar Asra lihat kalau kado nya sudah sampai pada ku.
“makasih Ridho, sebentar lagi kereta gue dateng, sampaikan salam sama anak-anak dan Asra ya.” Ucap ku.
“Ke..”
“Iya?”
“Gue bingung mau cerita darimana.”
“Kenapa Do?”
“Soal Asra.”
“Asra kenapa? Jangan setengah-setengah dong ceritanya.”
“Asra jatuh dari tangga Ke, dan saat di bawa ke RS nyawa nya gak tertolong. Saat di perjalanan ke rumah sakit, dia kasih gue kado ini. dia nyuruh gue buat kasih ke lo. Juga tulisan terakhir ini buat lo. Gue harap lo bisa sabar ya Ke, ikhlasin Asra.”
“gak mungkin, Asraaa..” rintih ku, aku menangis sejadi-jadinya. Sekujur tubuh ku lemas, aku terjatuh dan menangis.

“Perhatian semuanya, kepada penumpang yang akan berangkat ke Semarang kereta telah tiba di jalur 2. Sekali lagi kereta yang menuju semarang berada di jalur 2”

“Ke, kereta lo udah dateng.” Ridho menyadarkan ku dari tangis ku. Aku mencoba berdiri namun payah badan ku lemas.
“Do, gue mau ketemu Asra”
“Sorry Ke, gue disuruh Asra buat cegah lo jenguk dia. Lo harus tetep pergi ke Semarang”
“Tapi Do.”
“Ke, Asra bilang ke gue. Apapun yang terjadi lo harus tetep pergi Ke, Asra akan selalu ada di deket lo kok. Memperhatikan lo dari jauh. Dengan jaket yang dia kasih ini ke lo, itu tanda nya dia sayang lo Ke. Kalau lo gak jadi ke Semarang, lo gak sayang sama Asra.”
          Tangis ku pecah seketika, aku menyeka dengan tangan dan mencoba bangkit. Aku hapus air mata ku dan melangkah berjalan memasuki kereta. Aku duduk di dekat jendala, di luar sana Ridho masih berdiri. Sesaat kemudian kereta mulai berjalan pelan, aku melambaikan tangan ku ke Ridho dengan senyum yang sakit. Iya sakit, kehilangan sahabat kecil dan kesempatan untuk bicara dengannya sudah tidak ada lagi.
          Aku membuka sebuah surat yang kata Ridho di tulis oleh Asra di saat-saat terakhirnya.

“Dear Keke..
Hai sahabat gue, maaf sekali gue tidak bisa anter lo sampai stasiun, iya lotahu?? Sikap ceroboh gue gak pernah hilang dan akhirnya gue sendiri yang dapat musibah nya hehe. Buat lo yang mungkin lagi duduk manis di kereta hati-hati di jalan ya. Ini gue kasih jaket, di pake ya biar gak masuk angin. Terimakasih atas persahabat yang indah. Dari kecil sampai sekarang masih lo yang terbaik. Doain gue ya, biar gue sampai di surge dan ketemu sama ortu lo. Biar kita bisa bareng-bareng merhatiin lo dari surga sini. Kalo udah nyampe di Semarang, lo langsung liat ke langit dan bilang kalo lo udah sampe. Have fun disana yaa. Semoga bisa betah di Semarang. Salam buat pakde tatuk disana ya. Love you.
Sekali lagi maaf ya Keke.
-Asra-

Air mata ku mengalir deras, aku melihat keluar jendela kereta dan melihat hujan mulai turun.
“Lo tau Ca? langit aja nangis lo pergi..”

-END-

ddpw

          

Secondhand Serenade - I Hate This Song

Speak with your tongue tied,
I know that you're tired
But I just want to know,
Where you want to go,
I may be sad, But I'm not weak,
This situation is bleak
And your puffy eyes never lie,
Your tears come from inside.

[Chorus:]
Until Sunday I'll be waiting for an answer
I guess that yesterday's not good enough for you,
You know that I hate this song,
You know that I hate this song
Because it was written for you

Drown your fears with me
I'm feeling real sorry
Your glossy eyes don't need
The sadness they have seen
But you're way too deep to swim
Back up again
But somehow I can't find
The moment you said goodbye

[Chorus]

This is becoming a problem I'm hurting it's unfair
But somehow your words,
The way that I heard are haunting me,
You're under my skin
You're breaking in,
And the tasteless fights that filled our nights
Are starting to cave in,
You're under my skin
You're breaking in
And if Sundays what it takes to prove
I have nothing else to loose

[Chorus]

http://www.azlyrics.com/lyrics/secondhandserenade/ihatethissong.html

Thursday, November 20, 2014

no title

lagi lagi no title alias untitled hahaha
habis nya bingung mau kasih judul apaaaa

HALO NOVEMBER dapat salam dari senyuman termanis oleh denanda..
penulis blog amatiran ini hehe..
cukup telat yah ternyata buat bilang "Halo November"
iyalaah udah mau habis juga bulannyaaa

mau cerita tentang apa ya? gak ada cerita sih cuma mau tulis yang galau-galau aja..

sudah mau dua tahun ternyata gak ketemu, tiba-tiba kangen sama sesosok laki-laki yang pernah isi hati ini, namanya Fuad..
sama sekali gak ada kabar, mau tegur duluan yaiya masa gue terus yang negur -_-
gak tau kenapa masih sama dia stuck nya, sekana mengagumi dari jauh tanpa kabar dari masing-masing. hmm bodoh emang, eh tapi kan salah dia? siapa suruh dia jadi yang paling indah -_-

iya.. dia masih yang paling indah yang ada di hati, berlebihan mungkin..
tapi rasanya hati ini masih berharap sama dia.
mau ketemu sekali aja, cukup berdiri di depannya mau tatap matanya bersalaman dan bilang "hai apa kabar? :)"
cukup itu, hanya itu. mungkin hati ini penasaran, masih penasaran sama dia.
engga tau apa yang mau dicari lagi tentang dia.

seperti mengisi titik-titik dalam soal tanpa tau soalnya apa..
masih berharap tanpa tau yang diharapkan mengharapkan kita atau engga..

aku yakin, nanti,, suatu saat entah kapan, aku akan bertemu dia.
entah dengan pasangan masing-masing atau mungkin kita yang berpasangan? haha lucu.
harapan yang mungkin gak akan terkabul.

kalau memang jodoh dekatkan, tapi jika tidak biarkan hati ini memilih untuk pergi dan menata kembali hati nya menjadi hati yang baru..


Saturday, November 15, 2014

KAMI :')

Ada yang bilang "jangan masuk ke rumah yang pintu nya pura-pura di buka", lalu aku bertanya bagaimana caranya membedakan pintu yang benar-benar terbuka dan tidak?, dia menjawab "coba dekati dan kamu akan tahu pintu itu benar-benar terbuka atau tidak"

setiap cerita akan ada saat nya harus kembali dan melanjutkan. sekarang aku mengalami fase dimana aku merindukan semua nya. semua tentang mereka. aku beri nama "KAMI".
singkat. tapi cukup jelas untuk memahami KAMI. sebuah cerita tentang aku dan mereka yang sangat singkat namun berarti. aku diberi waktu untuk merasakan betapa hangatnya cerita itu, cukup satu tahun.
indah, mengesankan, seru, dan mungkin cerita yang paling manis.
satu tahun cukup untuk mengenal bagaimana mereka.
satu tahun cukup untuk tertawa dan menangis.
satu tahun cukup untuk sebuah perasaan kecewa.
satu tahun cukup untuk sebuah kata sia-sia.
satu tahun cukup untuk tahu bahwa akhirnya kita bukan lagi orang yang sama.
Kami yang sekarang bukan KAMI yang dulu..
seperti sebuah syair lagu bukan? :)

Aku tetap bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan, jika aku tidak dipertemukan oleh mereka mungkin aku tidak akan pernah belajar, mana yang benar-benar teman dan mana yang bukan teman.
mereka teman ku, tapi hanya untuk tawaku bukan sedihku.
untuk kalian, bukankah kita sudah terbagi-bagi?
ternyata gelas yang pernah retak itu sudah benar-benar pecah. sudah di lem tapi bagian yang retak tidak pernah kembali sempurna seperti saat belum retak. dan sekarang? sudah saatnya pecah.

Khayalan yang terkadang terlintas dalam pikiran, sirna seperti pasir yang diterbangkan oleh angin. butirannya terbawa angin dan perlahan menghilang.

Terimakasih untuk pertemanan yang singkat tapi manis.
Terimakasih Tuhan, telah pertemukan aku dengan mereka
Terimakasih tanggal 18...

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...