Thursday, September 24, 2015

Penulis Skenario

Dulu aku membangun tembok besar
Tidak sebesar tembok besar di Cina
Tapi setidaknya tembok itu bisa digunakan
Untuk melindungi ku dari orang-orang yang menyakitiku
Dari orang-orang yang ingin menjatuhkan ku
Dari orang-orang yang selalu membuatku sedih

Aku tahu,
Sedih itu dapat membuat ku belajar bagaimana caranya tersenyum
Kecewa itu dapat membuat ku untuk kuat
Marah itu dapat membuat ku bersabar
Gagal itui dapat membuat ku belajar untuk tidak pernah berhenti mencoba

Tapi aku punya hati,
Hati yang ingin selalu dihargai
Hati yang ingin selalu diberi rasa aman dan nyaman
Hati yang ingin selalu bahagia
Hati yang tidak pernah merasakan sakit
Hati yang tidak akan pernah luka

Tembok itu ku bangun untuk melindungi orang-orang yang aku sayang

Tapi.. Nyatanya..
Tembok itu sendiri hancur oleh orang-orang yang aku sayang
Mereka yang membuat ku membangun tembok sebesar ini
Mereka yang membuat ku penuh luka untuk membangun tembok ini
Mereka yang membuat ku untuk terus membeli bahan-bahan yang tidak mudah hancur untuk membangun tembok ini

Harus lari kemana?
Di belakang tembok ini ada mereka yang mencoba menjatuhkan aku dan menyakitiku
Di depan ku ada mereka yang mencoba menaruh rasa kecewa di hati
Harus lari kemana?

Dan pada akhirnya
Aku merasakan sakit
Aku merasakan sedih
Aku merasakan marah
Aku merasakan kecewa

Tidak ada hidup yang benar-benar indah rupanya
Layaknya si gunung es di kutub utara sana,
Dari atas terlihat menakjubkan
Tapi pada sisi bawah gunung es itu lebih menakjubkan
Karya Tuhan yang paling hebat berada pada sisi bawah gunung es tersebut

Sang Penulis Skenario memiliki drama nya tersendiri
Dan yang ku tahu saat ini, aku berada pada skenario-Nya
Entah indah atau tidak indah pada akhirnya, itu rencana-Nya

Tapi aku percaya, semua selalu happy ending

Sunday, September 20, 2015

Siapa Aku?

Kau tanya, siapa aku?
Aku yang berjalan ditengah gelapnya malam.
Berjalan sendiri dan selalu sendiri.
Aku berjalan tanpa tujuan, semua gelap dalam pandanganku
Terkadang ada suara yang meneriakki namaku, tapi samar-samar.
Dan terkadang ada cahaya yang menemaniku berjalan, tapi sesaat kemudain cahaya itu hilang

Kau tanya, siapa aku?
Aku yang saat itu berjalan tersandung batu.
Aku tersandung batu berkali-kali, hingga aku lupa.
Aku lupa bahwa aku terluka.

Kau tanya, siapa aku?
Aku penulis amatiran, yang mengaharapkan Happy Ending di setiap cerita.
Tapi ternyata mood ku belum mengizinkan untuk aku menulis Happy Ending ku sendiri.

Kau tanya, siapa aku?
Aku dengan hitam ku
Aku dengan negativ ku
Aku dengan amarah ku
Aku dengan tangis ku
Aku dengan sendiri ku

Terkadang, disaat kau merasa memiliki teman. Disaat itulah kamu tidak punya

Entah, mungkin terjadi sesuatu padaku.
Sesuatu yang tak bisa dijelaskan kata-kata.
Aku dan waktu yang aku punya.


Menangis..

Saturday, September 12, 2015

Untitled 6

Lagi dan lagi.
Entah, mungkin memang tidak bisa jadi yang terbaik. Tidak bisa jadi sesorang yang diinginkan orang lain. Setiap hari membuat diri sendiri merasa berharga, di sisi lain seseorang menghancurkannya. Remuk seremuk-remuknya !
Mencoba kuat dan tegar, mencoba untuk tidak menangis karena aku masih punya Allah yang tahu kalo aku berharga. Sangat berharga !
Mereka membanding-bandingkan ku, menjatuhkan ku dengan memuji orang lain. Bukan positiv yang aku ambil tapi negativ. Kenapa? Karena bukan itu yang akan membuat ku bersinar. Hargai sedikit saja apapun yang aku lakukan. Bukam mencemooh, bukan menghardik, bukan memarahi, bukan membentak, bukan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar. Aku tahu itu semua untuk kebaikanku. Aku tahu semua itu dilakukan untuk membuat ku lebih kuat. Karena aku tahu, dunia lebih keras dari omongan mereka. Tapi bukan seperti ini.
Yang ada, makin sedih, makin banyak pikiran kalo aku gak bisa apa-apa, gak berguna. buat apa lagi nyemangatin diri sendiri sampe pada akhirnya di jatuhkan sejatuh-jatuhnya. Di timpuk batu sama orang-orang yang di sayang.
Mungkin emnag gak bisa jadi yang terbaik. Gak akan oernah bisa.
Gak tau lagi harus gimana, ngapain. bingung.
Maaf Ya Allah, banyak ngeluh :(
Maaf..


Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...