Dulu aku membangun tembok besar
Tidak sebesar tembok besar di Cina
Tapi setidaknya tembok itu bisa
digunakan
Untuk melindungi ku dari orang-orang
yang menyakitiku
Dari orang-orang yang ingin
menjatuhkan ku
Dari orang-orang yang selalu
membuatku sedih
Aku tahu,
Sedih itu dapat membuat ku belajar
bagaimana caranya tersenyum
Kecewa itu dapat membuat ku untuk
kuat
Marah itu dapat membuat ku bersabar
Gagal itui dapat membuat ku belajar
untuk tidak pernah berhenti mencoba
Tapi aku punya hati,
Hati yang ingin selalu dihargai
Hati yang ingin selalu diberi rasa
aman dan nyaman
Hati yang ingin selalu bahagia
Hati yang tidak pernah merasakan
sakit
Hati yang tidak akan pernah luka
Tembok itu ku bangun untuk
melindungi orang-orang yang aku sayang
Tapi.. Nyatanya..
Tembok itu sendiri hancur oleh
orang-orang yang aku sayang
Mereka yang membuat ku membangun
tembok sebesar ini
Mereka yang membuat ku penuh luka
untuk membangun tembok ini
Mereka yang membuat ku untuk terus
membeli bahan-bahan yang tidak mudah hancur untuk membangun tembok ini
Harus lari kemana?
Di belakang tembok ini ada mereka
yang mencoba menjatuhkan aku dan menyakitiku
Di depan ku ada mereka yang mencoba
menaruh rasa kecewa di hati
Harus lari kemana?
Dan pada akhirnya
Aku merasakan sakit
Aku merasakan sedih
Aku merasakan marah
Aku merasakan kecewa
Tidak ada hidup yang benar-benar
indah rupanya
Layaknya si gunung es di kutub utara
sana,
Dari atas terlihat menakjubkan
Tapi pada sisi bawah gunung es itu
lebih menakjubkan
Karya Tuhan yang paling hebat berada
pada sisi bawah gunung es tersebut
Sang Penulis Skenario memiliki drama
nya tersendiri
Dan yang ku tahu saat ini, aku
berada pada skenario-Nya
Entah indah atau tidak indah pada
akhirnya, itu rencana-Nya
Tapi aku percaya, semua selalu happy
ending