Langit seakan
mengejekku, menertawakan ku terpingkal-pingkal. Diatas sana aku iri pada 2 bintang
yang sangat sangat dengan terangnya di
antara awan-awan kegelapan menyertainya. Aku semakin merasa langit benar-benar
menertawakanku.
Lucu.
Tapi aku
tidak bisa tertawa.
Perpisahan
sementara ini menimbulkan sesak di dada, aku selalu menunggu ada nada
pemberitahuan di HP ku akan kabar darinya. Pria ini tangguh.. jadi aku harus
menjadi wanita yang tangguh juga di hadapannya saat dia tidak bersamaku disini.
Tapi itu
menyiksa, aku harus benar-benar memendam tangis ku yang mengisyaratkan bahwa
aku benar merindunya.
Perasaan
apa ini? haha
Entahlah,
seperti apa perasaan ini. dia mengatakan “Aku akan kembali” dan aku
menyimpulkan “dia tidak akan benar-benar kembali”.
Pikiran
macam apa ini?
Aku
memandang langit dan 2 bintang itu masih bersama bersniar. Entah apa makasud
langit menunjukkan karya nya?
Hipocrates
pernah mengatakan “Ada beberapa hal yang mungkin akan dimengerti hanya oleh pikiranmu,
dan beberapa hal yang hanya dimengerti hatimu”
Saat logika
dan perasaan harus mempertahankan keyakinannya masing-masing sehingga membuat
ego yang luar bisa dan tidak menutup kemungkinan gelas kaca itu akan pecah.
Aku butuh
waktu..
Aku butuh
kamu..