Gadis itu duduk
termenung di depan terasnya, memandangi rintik hujan yang turun merasakan
hembusan angin yang sejuk membuat rambut sebahunya seakan menari diatas
kegalauannya.
Hati dan
pikirannya di ganggu oleh sesosok pria yang dia sayangi, yang ternyata pria itu
telah mendapat tempat di hatinya. Pria yang selalu mewujudkan mimpi-mimpinya,
mimpi tentang pria yang dia suka namun bertepuk sebelah tangan.
Ajaib nya,
pria yang sekarang menempati hatinya kini adalah orang yang tidak pernah dia
sangka, yang dulu hanya berstatus sebagai kakak-adik. Sukses nya pria tersebut
mengambil alih hati dan pikirannya.
Di antara
rintik hujan, dia selalu selipkan doa untuk pria itu.
Walaupun dia
tau, bukan jalannya pria itu untuk dia.
Seperti memeluk
kaktus, semakin erat di peluk semakin sakit.
Kedua insan itu
saling menyayangi, mungkin untuk sekarang hanya sebagai kakak-adik, kita tidak
pernah tau apa yang akan terjadi pada mereka di musim hujan berikutnya.
Aku
memandangi gadis itu, aku membaca setiap ekspresi yang dia tunjukkan.
Tersimpan banyak
kerinduan yang belum ia sampaikan.
Aku tau pada
siapa rindu itu.
Dia menatapku
dan berkata “aku suka hujan, hujan mengingatkan ku tentang dia”.
Aku tersenyum
menepuk pundaknya, niat hati ingin menghilangkan sedikit rasa galaunya.
Dia berkata
lagi “Kalau boleh aku memilih untuk siapa hati ini aku berikan, aku tidak akan
berikan hati ini untuknya, terlalu sakit menyayangi nya seperti ini.”
Aku hanya
bisa tersenyum.
Dia memandangi
hujan, bibirnya tersenyum tapi tidak matanya.
Aku menariknya
mendekati hujan, aku berputar menari diiringi hujan, dia masih diam terpaku
melihat ku bingung
Aku berkata “kita
sama-sama menyukai hujan, aku akan buat kenangan saat hujan sama kamu, aku gak
mau kamu inget dia terus karna hujan, aku mau kamu inget aku juga, kamu teman
aku, aku sayang kamu, aku gak mau kamu sedih terus”
Aku tau dia
meneteskan air mata, namun tidak terlihat karena hujan membasahinya juga.
Aku memeluknya
erat..
