Thursday, November 27, 2014

“Lo tau Ca? langit aja nangis lo pergi..”

“ternyata indah sekali bintang malam ini, jarang-jarang di Jakarta banyak bintang kayak begini” aku menatap ke atas langit dan mengucapkan kekaguman akan indah nya mala mini.
“jadi lo masih mau pindah Ke?” Tanya seorang teman yang seharian menemani ku di rumah, Asra.
“Iya Ca, gue tetep pindah. Setelah kepergian ortu gue gara-gara kecelakaan pesawat itu, rumah jadi sepi. Gue juga gak ada sodara di Jakarta. Semuanya di Semarang.” Kata ku.
“Ya Ke, kan masih ad ague. Masih ada keluarga gue, kita kan udah dari kecil bareng-bareng.”
“haha iya Ca, ngerti kok. Tapi ya gue gak bisa dong terus-terusan ngerepotin keluarga lo, gue gak enak kali. Lagian kalo liburan gue sempet-sempetin ke Jakarta kok.”
“Ah yaudah deh, semoga lo bisa seneng tinggal di Semarang”
“Iya Ca, makasih. Baik-baik lo disini, jangan macem-macem gak ad ague.”
“Yeee.. emang gue mau ngapain sih hahaha”
“Gue berangkat jam 7 pagi Ca”
“Loh? Bukannya jam 10 pagi?”
“Gue percepat Ca, gue mau cepet-cepet sampai Semarang. Bukannya lebih cepat lebih baik ya?”
“Iyasih tapi kan jadinya gue gak bisa anter lo Ke”
“Yaelah haha gapapa kali Ca, lo kan udah nemenin gue seharian disini.”
“Gue masih kangen kali Ke sama lo”
“Haha sejak kapan lo jadi begini sih Ca”
“Sejak lo bilang mau ke Semarang”
“Hahahaha cieeeeee”
          Kami berdua larut dalam tawa, tawa yang mungkin untuk terakhir kalinya. Karena aku mungkin tidak akan kembali ke Jakarta. Tapi aku harap, persahabatan jarak jauh kami tidak akan menjadi masalah.

“Hati-hati ya Ke” ucap seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan, Tante Dian, ibu dari sahabat ku Asra.
“Iya tante makasih yaa, maaf kalo selama ini aku ngerepotin”
“Ngerepotin apasih Ke? Tante sama mama kamu kan temenan udah lama, jadi kamu udah tante anggap sebagai anak juga.”
“Iya tante makasih ya.”
“Kamu di Semarang sama siapa Ke?” Tanya seorang laki-laki, Om Agus. Suami dari tante Dian sekaligus ayah dari Asra.
“Sama sodara Om, Pakde Tatuk.”
“Oh Pak Tatuk yang sering datang ke rumah tiap bulan itu ya?”
“Iya Om”
“Yaudah kamu hati-hati ya disana. Jaga diri, kalo kamu gak betah balik lagi aja ke Jakarta, pintu rumah kita terbuka kok buat kamu.”
“Iya Om, makasih banyak ya. Om sama tante udah baik banget sama keluarga aku. Oiya Asra mana om?” Tanya ku sambil mencuri pandangan ke lantai atas, kamar Asra.
“Loh gak tau, bukannya dia di rumah kamu seharian kemarin ya?”
“Iyasih om, terus tadi pagi Asra pamit pulang duluan. Hmm.. ya mungkin dia ke sekolah om, soalnya di sekolah lagi ada acara. Dia kan jadi panitia nya.”
“Oh gitu, terus gimana? Mau nungguin dia dulu?”
“Engga deh om, aku mau langsung pamit aja. Salam aja buat Asra ya om, tante.”
“Iya Ke, kasih kabar ya kalau sudah sampai Semarang”
“Iya pasti tante hehe.. aku pamit yaa”
“Iyaa hati-hati.”
          Taksi yang ku pesan mulai berjalan perlahan, aku menatap 2 rumah. Rumah ku dan rumah Asra. Aku melambaikan tangan pada kedua orang yang ku sayangi setelah mama dan papa. Cinta dan sayang yang mereka beri sama dengan cinta dan kasih sayang yang diberi mama dan papa. Aku menatap sedih, Asra tidak ada disana. Tapi aku mengerti, memang dia sedang sibuk. Taksi ku mulai berjalan cepat, aku memandangi jalanan yang selalu aku lewati bersama Asra saat berangkat sekolah. Senyum tipis dari bibirku dan linangan air yang mulai turun dari sudut mata. Seakan tidak mau pergi jauh tapi harus pergi.
          Setelah satu jam setengah aku sampai di stasiun, langkah berat memasuki pintu utama stasiun. Jujur, aku masih berharap ada Asra disini. Teman main kecil ku. Sahabat terbaik untukku. Aku menoleh ke belakang berharap ada sesosok perempuan memakai baju seragam SMA nya berlari kecil melambaikan tangan dan memelukku. Namun ternyata itu hanya fantasi yang indah. Aku melanjutkan langkah kaki memasuki stasiun. Aku duduk manis menunggu kereta yang ternyata masih satu  jam lagi tiba. Aku mengambil handphone dan menekan nomor seseorang, Asra. Namun nihil, handphone nya tidak aktif. Berkali-kali hanya operator yang menjawab. BBM nya pun hanya ceklis. Sejenak aku teringat, biasanya hp nya selalu di matikan saat ada acara.
“Dasar Asra” gumam ku.
          Dari kejauhan aku melihat seorang anak laki-laki memakai seragam sekolah ku berlari, ternyata mendekatiku. Dia adalah Ridho, ketua kelas di kelas ku.
“Lo ngapain kesini Do? Kok lo lari-lari? Acara di sekolah udah selesai?”
          Laki-laki yang bertubuh tinggi berdiri di depan ku, mencoba untuk mengatur nafas nya yang terengah engah.
“Keke..” dia mulai bicara dengan nada rintih, wajah pucat sehabis berlari dan gambaran ekspresi bingung, sedih, dan lelah terbaca semua di wajahnya.
“kenapa Do? Lo sendirian? Asra gak ikut sama lo ya?” Tanya ku
“Gue mau kasih ini ke lo Ke, ini dari Asra. Dia mau lo pake sekarang.” Kata Ridho.
“Kenapa gak Asra yang kasih langsung ke gue? Dia sibuk banget ya?” Tanya ku sambil ku buka bungkusan yang ternyata sebuah jaket warna biru dan ku pakai langsung. Senyum ku mengembang dan aku meminta agar Ridho memfoto ku agar Asra lihat kalau kado nya sudah sampai pada ku.
“makasih Ridho, sebentar lagi kereta gue dateng, sampaikan salam sama anak-anak dan Asra ya.” Ucap ku.
“Ke..”
“Iya?”
“Gue bingung mau cerita darimana.”
“Kenapa Do?”
“Soal Asra.”
“Asra kenapa? Jangan setengah-setengah dong ceritanya.”
“Asra jatuh dari tangga Ke, dan saat di bawa ke RS nyawa nya gak tertolong. Saat di perjalanan ke rumah sakit, dia kasih gue kado ini. dia nyuruh gue buat kasih ke lo. Juga tulisan terakhir ini buat lo. Gue harap lo bisa sabar ya Ke, ikhlasin Asra.”
“gak mungkin, Asraaa..” rintih ku, aku menangis sejadi-jadinya. Sekujur tubuh ku lemas, aku terjatuh dan menangis.

“Perhatian semuanya, kepada penumpang yang akan berangkat ke Semarang kereta telah tiba di jalur 2. Sekali lagi kereta yang menuju semarang berada di jalur 2”

“Ke, kereta lo udah dateng.” Ridho menyadarkan ku dari tangis ku. Aku mencoba berdiri namun payah badan ku lemas.
“Do, gue mau ketemu Asra”
“Sorry Ke, gue disuruh Asra buat cegah lo jenguk dia. Lo harus tetep pergi ke Semarang”
“Tapi Do.”
“Ke, Asra bilang ke gue. Apapun yang terjadi lo harus tetep pergi Ke, Asra akan selalu ada di deket lo kok. Memperhatikan lo dari jauh. Dengan jaket yang dia kasih ini ke lo, itu tanda nya dia sayang lo Ke. Kalau lo gak jadi ke Semarang, lo gak sayang sama Asra.”
          Tangis ku pecah seketika, aku menyeka dengan tangan dan mencoba bangkit. Aku hapus air mata ku dan melangkah berjalan memasuki kereta. Aku duduk di dekat jendala, di luar sana Ridho masih berdiri. Sesaat kemudian kereta mulai berjalan pelan, aku melambaikan tangan ku ke Ridho dengan senyum yang sakit. Iya sakit, kehilangan sahabat kecil dan kesempatan untuk bicara dengannya sudah tidak ada lagi.
          Aku membuka sebuah surat yang kata Ridho di tulis oleh Asra di saat-saat terakhirnya.

“Dear Keke..
Hai sahabat gue, maaf sekali gue tidak bisa anter lo sampai stasiun, iya lotahu?? Sikap ceroboh gue gak pernah hilang dan akhirnya gue sendiri yang dapat musibah nya hehe. Buat lo yang mungkin lagi duduk manis di kereta hati-hati di jalan ya. Ini gue kasih jaket, di pake ya biar gak masuk angin. Terimakasih atas persahabat yang indah. Dari kecil sampai sekarang masih lo yang terbaik. Doain gue ya, biar gue sampai di surge dan ketemu sama ortu lo. Biar kita bisa bareng-bareng merhatiin lo dari surga sini. Kalo udah nyampe di Semarang, lo langsung liat ke langit dan bilang kalo lo udah sampe. Have fun disana yaa. Semoga bisa betah di Semarang. Salam buat pakde tatuk disana ya. Love you.
Sekali lagi maaf ya Keke.
-Asra-

Air mata ku mengalir deras, aku melihat keluar jendela kereta dan melihat hujan mulai turun.
“Lo tau Ca? langit aja nangis lo pergi..”

-END-

ddpw

          

No comments:

Post a Comment

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...