Hari Pertama di tahun yang baru..
Halo, 2015..
Aku duduk di depan laptop memandang
keluar jendela, pemandangan yang setiap pagi aku lihat.
Rumah sederhana yang ada di depanku,
jalanan dengan batu-batu kecil, anak-anak yang berlari kesana kemari.
Suasana pagi di awal tahun ini
sejuk, mungkin juga bisa dikatakan dingin. Karena hujan di pagi-pagi buta
membuat suasananya menggoda untuk tetap berada di atas kasur dan berselimutkan
sampai siang benar-benar menjemput.
Pandangan ku tertuju pada sebuah vas
bunga, tidak terlalu besar tapi setidaknya bisa ku taruh di dekat jendela. Itu bunga
mawar, bunga pemberian teman-teman ku di kampus karena hari ulang tahunku. Entah
apa yang mereka pikirkan sehingga memberi ku bunga.
Mawar merah dan mawar putih.
Seberani maknanya dan sesuci
warnanya.
Indah ya, aku harap mawar itu bisa
hidup lebih lama lagi karena sudah aku beri mereka air. Namun sayang, Tuhan
berkata lain. Satu per satu kelopak indahnya jatuh.
Mawar..
Bunga yang cantik, semua mawar itu
cantik.
Mungkin dia adalah bunga yang paling
cantik.
Banyak di kagumi oleh orang-orang
karena kecantikan bunga itu.
Kelopak yang mekar dengan indahnya.
Saat masih menjadi kuncup pun indah,
bisa dibayangkan betapa indahnya saat mekar.
Mawar..
Mengingatkan aku tentang
persahabatan itu..
Persahabatan yang singkat namun
manis.
Mawar putih itu lah pemberian
mereka,
Mereka yang pernah dekat dengan ku
hingga menjadi sangat akrab..
Hari-hari yang dilalui serasa hanya
ada tawa dan kegilaan yang kita buat
Kenangannya begitu manis
Hampir setiap waktu kami habiskan
bersama.
Kita punya cara untuk menghabiskan
waktu bersama
Hingga lupa waktu berlalu cepat..
Seindah bunga itu.
Seindah pula kenangan itu.
Tapi aku lupa,
Hampir lupa..
Kalau mawar itu berduri
Seperti bunga yang layu, satu per
satu kelopak nya jatuh.
Seperti mawar yang berduri, satu per
satu tangan orang-orang yang ingin mengambilnya terluka.
Walaupun mereka mencoba melindungi
tangan mereka dari duri, tetap saja kan?
Mawar itu tetap berduri..
Persahabatan kini menjadi duri.
Tidak,
Aku tidak dendam.
Perasaan ku pun tidak semarah layak
nya warna merah menyala.
Tapi duri itu membuat ku menjauh.
Persahabatan itu buat ku sudah tidak
ada.
Rindu yang mungkin kami rasakan
hanya rindu biasa.
Perasaan ku sekarang biasa saja.
Selalu mencoba menarik diri dari
mereka.
Aku tipe orang yang tidak
mempercayai orang lain.
Susah untuk mendapatkan seseorang
yang benar-benar mengerti kita apa adanya.
Dan saat ku temukan mereka, aku
senang.
Seiring berjalannya waktu duri itu
muncul.
Seperti masalah sepele yang akhirnya
membuat kelopak itu makin banyak yang jatuh.
Biarkan mereka menjadi mereka.
Dan aku menjadi aku.
Aku akan kembali..
Menjadi aku..
Aku yang lebih baik lagi..
Tidak akan pernah ku lupa
Kenangan manis bersama mereka..
Mereka indah seperti mawar.
Mawar yang berduri..
mawar berduri? itu gambaranmu tentang kita yang dulu . iya "kita yang dulu" . aku juga sama . menggambarkan kita itu seperti sebuah gelas. lalu mereka menggambarkan kita seperti apa? "mawar berduri disebuah gelas yang berisi air"?
ReplyDeletehaha bagus tuh, boleh tuh di buat cerita. sok atuh lo yg buat ceritanya :p
ReplyDeleteIya nanti gue buat hahhahhah. Tunggu aja cerpennya terbit 3:)
ReplyDelete