Pagi di hari ke-4 di bulan dan
tahun yang baru.
Halo Januari..
Pagi ini hujan sudah mengguyur
tempatku, membawa hawa sejuk nan dingin. Membawa aroma khas hujan,
mendendangkan irama yang tidak dimiliki oleh musik-musik lain. Irama khas nya,
aroma nya, suasana yang dimiliki hujan yang tidak dimiliki oleh siapapun.
Aku terbangun di pagi ini, cuci
muka dan menggosok gigi. Belum mandi, tapi setidaknya aku masih cukup manis di
pagi ini.
Aku terduduk di depan laptop
dengan selimut tebal yang menutupi kaki-kaki ku.
Mungkin kalau kaki ku bisa bicara
dia akan mengatakan “hangat nya pagi ini”.
Andai saja rasa bersalah itu
sepeti hujan, hujan turun dan menghapus jejak-jejak kesalahan yang pernah di
toreh kan.
Andai saja sakit hati itu seperti
hujan, yang bisa menghapus goresan di atas pasir. Goresan luka..
Andai saja kekecewaan itu seperti
hujan, yang bisa di bawa oleh hujan mengalir ke tempat yang jauh hingga
perlahan lenyap.
Hujan mengingatkan pada
seseorang. Dia yang pernah ku tulis dalam blog ku.
Mungkin seseorang yang berharga?
Bukan.. jika berharga sudah
banyak yang akan membelinya, yang akan merawatnya dengan baik karena dia
berharga.
Seorang teman?
Iya mungkin, lebih tepatnya teman
dekat. Jika dibilang sahabat pun, bukan juga. Tapi setidaknya dia yang berusaha
selalu ada saat aku butuh, dia yang selalu menemani ku saat aku butuh
seseorang. Dia juga yang selalu mencoba mengerti apapun tentang aku. Iya aku,
si penulis amatiran ini.
Kami menyukai hujan.
Kami suka menulis.
Kami menyukai mawar putih.
Kami menyukai warna biru.
Kami adalah orang perasa.
Kami memiliki kisah yang hampir
sama.
Kami bersaing.
Kami menangis bersama.
Kami adalah teman dekat.
Sebuah luka mungkin sudah ku
torehkan padanya.
Selayak kertas putih yang sudah
aku beri tinta hitam yang tidak bisa di hapus.
Di cuci dengan sabun pun tak akan
hilang yang ada kertas nya akan hancur.
Bukan hanya satu kertas, tapi dua
kertas yang seharusnya dia dapat melukiskan sesuatu yang indah pada kertas itu.
Entah berapa kertas yang dia
punya, tapi yang ku lihat di atas meja sana tinggal satu.
Satu kertas, dan jika aku
menorehkan lagi tinta itu dia tidak punya kertas untuk melukiskan sesuatu
disana.
Aku berjanji tidak akan
menorehkan tinta lagi pada nya dan membiarkannya melukiskan sesuatu yang indah.
Tapi ternyata kebodohanku yang
menorehkan tinta itu lagi.
Sebuah kata kekecewaan terlontar
dari mulutnya, dengan menatap matanya aku tahu dia benar-benar kecewa.
Dan penyesalan itu datang.
Orang bodoh itu adalah orang yang
tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah di berikan untuk kedua kalinya.
Dan orang yang lebih bodoh lagi
adalah orang yang mau memberikan kesempatan untuk ketiga kalinya.
Entah apa arti kesempatan
untuknya.
Saat aku memilih untuk pergi dan
tidak mengganggu nya lagi agar dia dapat melukis dengan tenang pada kertas yang
tersisa, sesuatu menarikku.
Sebuah tali yang tak terlihat.
Dia mengikat ku dengan erat hingga aku tidak bisa pergi, tapi tidak bisa untuk
mendekatinya lagi.
Sebenarnya tali itu menarikku
untuk saling mendekat tapi aku yang memilih melawan kekuatan tali itu. Karena
jika aku mendekat aku akan menorehkan lagi tinta hitam itu.
Aku berdiri, mungkin berajarak 10
meter di depannya.
Seperti ada pembatas tipis antara
aku dan dia.
Pembatas itu ku beri nama
“pembatas regret”.
Pembatas penyesalan yang aku buat
sendiri, iya aku buat untuk diriku sendiri.
Agar aku tidak mengacau lagi.
agar aku tidak menorehkan lagi tinta hitam di kertas putihnya. Kertas nya
terlalu putih untuk ku torehkan tinta hitam.
Dan dia terlalu baik untuk aku
kecewakan.
Di tempat aku berdri aku
melihatnya mulai mengambil kertas putih, duduk membelakangi ku. Sepertinya dia
akan mulai melukis sesuatu disana, entah apa yang dia lukis. Tapi setidaknya
aku masih disini, masih melihat nya, masih mengawasinya. Aku akan selalu ada
disini, berdiri disini jika aku lelah aku bisa duduk ataupun tidur. Tapi aku
akan selalu disini. Dia bisa menoleh ke belakang dan dia bisa temukan aku
disini.
No comments:
Post a Comment