Sunday, January 4, 2015

Pembatas Regret

Pagi di hari ke-4 di bulan dan tahun yang baru.
Halo Januari..

Pagi ini hujan sudah mengguyur tempatku, membawa hawa sejuk nan dingin. Membawa aroma khas hujan, mendendangkan irama yang tidak dimiliki oleh musik-musik lain. Irama khas nya, aroma nya, suasana yang dimiliki hujan yang tidak dimiliki oleh siapapun.

Aku terbangun di pagi ini, cuci muka dan menggosok gigi. Belum mandi, tapi setidaknya aku masih cukup manis di pagi ini.
Aku terduduk di depan laptop dengan selimut tebal yang menutupi kaki-kaki ku.
Mungkin kalau kaki ku bisa bicara dia akan mengatakan “hangat nya pagi ini”.

Andai saja rasa bersalah itu sepeti hujan, hujan turun dan menghapus jejak-jejak kesalahan yang pernah di toreh kan.
Andai saja sakit hati itu seperti hujan, yang bisa menghapus goresan di atas pasir. Goresan luka..
Andai saja kekecewaan itu seperti hujan, yang bisa di bawa oleh hujan mengalir ke tempat yang jauh hingga perlahan lenyap.

Hujan mengingatkan pada seseorang. Dia yang pernah ku tulis dalam blog ku.
Mungkin seseorang yang berharga?
Bukan.. jika berharga sudah banyak yang akan membelinya, yang akan merawatnya dengan baik karena dia berharga.
Seorang teman?
Iya mungkin, lebih tepatnya teman dekat. Jika dibilang sahabat pun, bukan juga. Tapi setidaknya dia yang berusaha selalu ada saat aku butuh, dia yang selalu menemani ku saat aku butuh seseorang. Dia juga yang selalu mencoba mengerti apapun tentang aku. Iya aku, si penulis amatiran ini.
Kami menyukai hujan.
Kami suka menulis.
Kami menyukai mawar putih.
Kami menyukai warna biru.
Kami adalah orang perasa.
Kami memiliki kisah yang hampir sama.
Kami bersaing.
Kami menangis bersama.
Kami adalah teman dekat.

Sebuah luka mungkin sudah ku torehkan padanya.
Selayak kertas putih yang sudah aku beri tinta hitam yang tidak bisa di hapus.
Di cuci dengan sabun pun tak akan hilang yang ada kertas nya akan hancur.
Bukan hanya satu kertas, tapi dua kertas yang seharusnya dia dapat melukiskan sesuatu yang indah pada kertas itu.
Entah berapa kertas yang dia punya, tapi yang ku lihat di atas meja sana tinggal satu.
Satu kertas, dan jika aku menorehkan lagi tinta itu dia tidak punya kertas untuk melukiskan sesuatu disana.

Aku berjanji tidak akan menorehkan tinta lagi pada nya dan membiarkannya melukiskan sesuatu yang indah.
Tapi ternyata kebodohanku yang menorehkan tinta itu lagi.
Sebuah kata kekecewaan terlontar dari mulutnya, dengan menatap matanya aku tahu dia benar-benar kecewa.
Dan penyesalan itu datang.

Orang bodoh itu adalah orang yang tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah di berikan untuk kedua kalinya.
Dan orang yang lebih bodoh lagi adalah orang yang mau memberikan kesempatan untuk ketiga kalinya.

Entah apa arti kesempatan untuknya.

Saat aku memilih untuk pergi dan tidak mengganggu nya lagi agar dia dapat melukis dengan tenang pada kertas yang tersisa, sesuatu menarikku.
Sebuah tali yang tak terlihat. Dia mengikat ku dengan erat hingga aku tidak bisa pergi, tapi tidak bisa untuk mendekatinya lagi.
Sebenarnya tali itu menarikku untuk saling mendekat tapi aku yang memilih melawan kekuatan tali itu. Karena jika aku mendekat aku akan menorehkan lagi tinta hitam itu.
Aku berdiri, mungkin berajarak 10 meter di depannya.
Seperti ada pembatas tipis antara aku dan dia.
Pembatas itu ku beri nama “pembatas regret”.
Pembatas penyesalan yang aku buat sendiri, iya aku buat untuk diriku sendiri.
Agar aku tidak mengacau lagi. agar aku tidak menorehkan lagi tinta hitam di kertas putihnya. Kertas nya terlalu putih untuk ku torehkan tinta hitam.
Dan dia terlalu baik untuk aku kecewakan.


Di tempat aku berdri aku melihatnya mulai mengambil kertas putih, duduk membelakangi ku. Sepertinya dia akan mulai melukis sesuatu disana, entah apa yang dia lukis. Tapi setidaknya aku masih disini, masih melihat nya, masih mengawasinya. Aku akan selalu ada disini, berdiri disini jika aku lelah aku bisa duduk ataupun tidur. Tapi aku akan selalu disini. Dia bisa menoleh ke belakang dan dia bisa temukan aku disini. 

No comments:

Post a Comment

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...