Monday, February 23, 2015

Masih Ingat?



masihkah kau ingat pertama bertemu..
kamu masih cupu aku masih lugu..
kisah masa lalu..
aku dan dirimu..

Sepenggal lirik lagu band indie asal Semarang yang nadanya menurut ku sedikit aneh namun memiliki lirik yang lucu dan memiliki makna yang indah..
Hari ini aku menangis, mungkin tangisan pertama di depan dia.
Dia, sahabat ku..

Aku mengenal nya saat masuk kuliah, entah hari keberapa aku saling tegur sapa dengannya. Singkat cerita kami dekat dan teramat dekat. Saat itu, 6 bulan waktu yang cukup untuk saling mengenal dan memahami. Walaupun hanya sepintas kenal dan paham, tapi cukup untuk tahu siapa dia dan bagaimana sikap nya.
Awalnya bukan dia, bukan dia orang yang membuat ku berbagi cerita dan masalah. Awalnya bukan dia yang pada akhirnya dia lah yang menjadi teman duka dan teman suka.
Kebersamaan yang kami ciptakan lewat canda dan tawa, tangis dan duka, pertengkaran dan rasa kesal. Semua tercipta.
Kebersamaan yang kami lewatkan dengan saling memahami, saling menjaga, dan saling melindungi. Kami lewatkan bersama.

Dia adalah salah satu yang terbaik dari yang terbaik.
Bukan apa-apa, tapi memang dia lah yang berusaha selalu ada.
Dan memang ada padanya, sikap yang membuat orang lain nyaman bersamanya.

Ingatkah? Bahwa aku berkata, kami teramat dekat?
Bohong jika ada yang berkata “dia temen deket gue, ngapain gue iri sama dia?”
Karena memang pasti seperti itu.
Dan itu pernah terjadi.
Tuhan tahu,
Dia pun tahu,
Rasa iri yang seharusnya tidak ada namun muncul.
Hingga ada pada diri ini “dia sainganmu”.
Mungkin ini cara Tuhan menguji bagaimana aku meredam rasa itu yang memang seharusnya tidak boleh ada.
Dan Tuhan berhasil, dia bukan lagi sainganku melainkan sahabat ku.

Ingatkah? Bahwa aku berkata, kami teramat dekat?
Hingga muncul pada diri ini suatu keegoisan yang besar.
Mungkin ini cara Tuhan menguji bagaimana aku berfikir bahwa bukan hanya aku temannya.
Dan Tuhan berhasil, aku merelakan dia pergi bersama teman nya yang lain tapi aku diberi suatu kepercayaan bahwa kemanapun dia pergi, aku adalah tempatnya kembali.
Entah kepercayaan semu atau bukan tapi itulah yang terjadi.

Hari ini aku menyembunyikan kepala ku di pundaknya
Aku memeluk sahabat ku erat,
Dan ternyata air mata ini jatuh

Dirimu..
Teman terbaikku
Yang mengerti yang ku mau yang ku suka dan ku benci
Dan dirimu..
Satu yang terbaik yang pernah aku miliki
Saat ini sampai nanti..

Satu lagu yang menjadi soundtrack saat kami berpelukan.
Dia bilang “Ini lagu buat lo”

Iyaa. Dan disinilah berakhir saat waktu yang menunjukkan pukul 16.00 WIB dan waktunya untuk pulang.
Aku menangis dalam diam di pelukannya.
Tuhan tahu, aku bisikkan sesuatu padanya.
Yang mungkin dia tidak akan pernah tahu, dengar pun mungkin tidak.
Tapi Tuhan tahu..

Hujan pun mewakili perasaan ku hari ini.
Bukan tentang kesedihan..
Tapi rasa syukur, setidaknya setelah orang tua ku ada dia yang bisa jadi tempat tumpahnya semua air mata kesedihan maupun kebahagiaan.

Satu yang ku pinta padamu, Tuhan.
Apapun yang terjadi nanti
Biarkanlah kami tetap seperti ini
Saling tertawa
Menangis bersama
Bertengkar
Tapi saling menjaga..

No comments:

Post a Comment

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...