Lagi dan lagi. Aku menulis
apa yang ingin aku tulis. Entah judul apa yang cocok untuk tulisan ku kali ini.
Mungkin “Untitled” lagi untuk kesekian kalinya.
Bagaimana orang-orang
menerjemahkan tentang cinta?
Apakah cinta itu harus ada
yang tersakiti?
Apakah cinta itu harus
menangis?
Apakah cinta itu harus
mengorbankan hati?
Apakah cinta itu harus
berbalas?
Apakah cinta itu artinya
kesedihan?
Bagaimana dengan istilah
“Cinta tidak harus memiliki?”
Apa memang tidak harus
memiliki?
Atau harus saling memiliki?
Bukankah rejeki, jodoh dan
maut hanya Tuhan yang menentukan?
Kita manusia sudah
memiliki buku tersendiri yang di buat oleh Tuhan.
Bagaimana kita hidup, akan
seperti apa hidup yang kita jalani, bagaimana rejeki kita di dunia nanti, atau
jodoh ataupun kapan kita akan mati?
Bukankah semua itu sudah
di tulis Tuhan?
Jika tertulis kau akan
miskin seumur hidup mu, bisakah diubah?
Jika tertulis kau akan
menderita seumur hidup mu, bisakah diubah?
Jika tertulis dia bukan
jodoh mu, bisakah diubah?
Taukah?
Takdir yang tertulis
dengan Do’a yang kita panjatkan pada Tuhan setiap harinya dapat mengubah kata
Takdir?
“Dan
Rabb-mu berfirman” Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk
neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S 40: 60)
Tuhan saja sudah berjanji, setiap manusia yang
memanjatkan do’a maka akan dikabulkan oleh-Nya. Hanya orang-orang yang sombong
yang tidak mau berdoa dan akan masuk neraka Jahanam dengan keadaan yang
sehina-hinanya.
Jadi?
Apapun yang sudah tertulis
dalam Lauhul Mahfudz semuanya bisa diubah.
Saat jalan takdir mu penuh
liku, semua dapat diubah dengan do’a.
Yang pasti tidak hanya
berdo’a. Tuhan pun tidak akan mengabulkan do’a orang-orang yang tidak ingin
berusaha. Mungkin jika hanya berdo’a saja bisa dapat makanan yang banyak dan
enak setiap harinya, tidak ada yang miskin di dunia ini. Semua kebutuhan akan
tercukupi.
Bersabda Rasulullah
shollallahu’alaih wa sallam: “Tidak ada yang
dapat menolak takdir (ketentuan) Allah ta’ala selain do’a. Dan tidak ada yang
dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR
Tirmidzi 2065)
See?
Do’a dapat mengubah takdir
sebegitu mudahnya dengan adab berdo’a yang baik tentunya dan berusaha pastinya.
Bagaimana dengan jodoh?
Terkadang wanita menangisi
pria yang belum tentu pria itu jadi jodohnya kelak.
Pengalaman yang saya dapat
dari teman-teman saya.
Ada yang menangisi pria
yang menjadi kekasih orang lain.
Ada yang menangisi pria
yang tidak memiliki status apapun, pacar juga bukan.
Ada yang menangisi pria
yang sering sekali menyakitinya.
Ada yang menangisi pria
yang berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama untuk menyakitinya.
Tapi mereka tetap
bertahan.
Karena apa?
“Ya gimana ya, gue cinta
sih sama dia”
“Ya namanya sayang mau
diapain lagi”
“Gue mau buka hati lagi
buat orang lain stuck nya di dia terus”
“Gue udah usaha ngelupain
dan pergi tapi endingnya di dia”
“Gue tau gue bodoh tapi
sayang gimana dong?”
“Gak tau lah gue sakit,
dia ngecewain terus tapi sayang”
“Lo belum dapet sih yang
bisa perhatian, aman, dan nyaman kalo deket dia dan akhirnya gak bisa lepas”
“Orang bilang mah gampang
ngelupain tapi yang ngejalanin itu susah.”
“Dia itu cinta oertama
yang paling susah gue lupain, sakit gak punya status sama dia tapi gue sayang”
“Dia abang-abang an gue,
adek mana sih yang gak suka abangnya wujudin semua mimpi adeknya ini padahal
semua itu gue ngebayangin sama cowo yang gue suka”
yaaaa dan lain sebagainya.
Suka gemes gemes gitu kalo
nasehatin mereka. Udah tau sakit tapi masih di lanjutin.
Btw, iyasih yang nulis
blog ini belum pernah ngerasain begitu sakitnya mencintai *hahahahaha
Mungkin buat umur yang
dibawah 20 tahunan di maklumin kali ya untuk keluhan seperti di atas. Tapi buat
umur 20an keatas. Tolong lah, kalian sudah besar tau mana yang baik dan mana
yang engga.
Bukankah hati bisa tau?
Bagaimana nyaman dan bagaimana sakit?
“Bahagia secukupnya.
Sedih seperlunya.
Mencintai sewajarnya.
Membenci sekedarnya.
Bersykur sebanyak banyaknya.”
Apa kalian pernah menangis
sampai terseguk-seguk saat mengingat dosa apa yang kalian telah lakukan di
dunia sehingga malu pada Tuhan?
Apa kalian pernah menangis
mengingat bagaimana tingkah laku kalian ke orang tua kalian dan mengadukannya
pada Tuhan?
Pernah?
Jika kalian tidak pernah
lantas untuk apa menangisi sesorang yang hanya membuat luka, membuat sesaat
terbang dan sesaat kemudian jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia adalah orang yang belum
tentu menemani sampai mati bahkan mungkin sampai bertermu di Syurga sana.
Mungkin aku adalah teman
yang terjahat, saat ada seorang teman mengadukan masalahnya dengan pacarnya dan
aku bilang “yaudah putus aja”.
Iya, aku pernah melakukan
itu padanya. Aku mengenal baik teman ku (sebut saja M) dan dia memiliki (sebut
saja Z) . Entah kenapa suatu kebetulan atau tidak, kalau aku tidak suka sama
seseorang walaupun hanya sekilas dan tanpa alasan someday orang yang gak aku
suka itu akan melakukan hal-hal yang membuat orang lain gak suka bahkan bukan
cuma aku yang menilai.
Dan tanggapan aku saat
mengetahui si M berpacaran dengan si Z, dalam hati aku berkata “YaAllah maaf
kalau aku memiliki fikiran ini tapi dia gak akan lama berpacaran”. Mereka putus
nyambung karena si M selalu luluh dengan rayuan si Z yang berkali-kali minta
maaf. Sampai suatu saat si M bercerita untuk kesekian kalinya dengan
pertengkaran mereka yang kesekian kalinya aku mengeluarkan kata-kata yang
menyakiti teman ku. “Yaudah putus aja”. Seketika yaa dia marah siapa juga yang
gak marah kalau temennya curhat malah ditanggepin begitu. Setelah kejadian itu
aku minta maaf dan lebih mengontrol emosi saat si M bercerita padahal aku
pengen sekali bilang “Lo itu udah disakitin tapi masih begitu”. Sampai-sampai
saat itu aku rela pulang malam demi membuat kado annive bersama si M untuk hari
annive mereka berdua.
Tapi nyatanya tidak lama
mereka putus dan benar-benar putus. Setelah putus si M mengetahui bahwa saat
mereka pacaran si Z dengan bebasnya jalan sama wanita lain tanpa sepengetahuan
si M.
Karena kejadia itu aku
dapat 11 es krim dari si M *hahahahahha.
Lanjut..
Ya begitu, terkadang otak
harus jalan.
Kalau hati memaksa untuk
tetap bertahan, kamu harus bisa memaksa hati untuk pergi jika itu sudah
menyakiti hati dan melelahkan pikiranmu.
Memangnya kamu hanya punya
hati di tubuhmu?
Masih ada organ lain di
tubuhmu dan yang kau pikirkan jangan hanya hati. Jika otak dan tubuhmu sudah
lelah kenapa harus stay sama orang yang nyakitin kamu.
Hidup itu mudah.
“Pertahanin
yang buat bahagia tinggalin yang bikin sakit”
mungkin banyak yang akan
komentar “wah ngomong doang mah gampang “ atau “ya lo gak pernah ngerasain sih”
atau “yaudahsih gue ini yang disakitin kenapa lo yang ribet dah”. Kalo ada
orang yang komen dengan kata-kata yang terakhir tadi dia adalah orang yang gak
bersyukur karena masih ada orang yang khawatirin dia. hffttt…
atau mungkin gak akan ada yang
baca karena gak ada yang tau blog ini *hahahaha.
kayaknya aku setuju dengan
istilah “Cinta itu tidak harus memiliki”
Cinta seperti apa yang
tidak memiliki?
Kalau cinta hanya yang
berkorban satu orang saja, yang menangis hanya satu orang saja, yang tersakiti
hanya satu orang saja.
Bukankah cinta itu harus
saling berkorban,
Harus bersama sama dalam
tangis dan tawa,
dan jika ada yang
tersakiti mereka saling intropeksi dan meminta maaf.
Tapi kalaupun kalian sudah
saling cinta dan sayang. Kalian saling mendoakan untuk diberikan kesempatan
bersama ternyata takdir berkehendak lain mau bagaimana lagi?
Bukannya do’a dapat
menubah takdir tapi kenapa kita gak bisa saling bersama?
“Karena Tuhan tau apa yang kamu butuhkan bukan apa yang
kamu inginkan”
Coba deh saat lagi suka
sama orang, niatnya itu begini “Aku cinta atau sayang sama kamu karena Tuhan”
Kalo buat muslim “Anna
uhibukki fillah”
Ya mau muslim atau non
muslim setidaknya niatnya sama, mencintai seseorang karena Tuhan.
Jika semua karena Tuhan,
saat Tuhan mematahkan hati kalian dari seseorang yang kalian sayangin atau
cintai kalian akan mengerti Tuhan tidak mau kamu jatuh pada orang yang salah.
Setelah itu lanjutkan
hidup dengan baik, karena yakin Tuhan benar-benar sudah siapkan yang terbaik
buat kita. Tapi dengan tidak menutup hati untuk yang lain yaa..
Kalau suka sama orang juga
langsung bilang jangan di pendem. Ada hadits riwayat muslim tapi saya lupa
bunyi nya gimana, kurang lebih kalo gak salah ada seorang pemuda menemui
Rasulullah SAW, pemudi itu bilang ke Rasulullah “wahai rasul, dia adalah orang
yang aku cintai”, kemudia rasul berkata “apakah dia tahu?”, pemuda menjawab “belum
ya rasul”, “kalau begitu beritahulah perasaan mu pada nya” dan pemuda itu
memberitahukan perasaan pada orang yang dia sukai.
Mau nanti di terima apa
engga, itu hak nya. Kita gak bisa maksain orang itu juga suka dan sayang sama
kita. Gak boleh perasaan itu di paksa.
Nah, timbul pertanyaan
lagi, katanya gak boleh di paksa? kenapa kita harus memaksakan hati berpaling
ke yang lain padahal kita masih sayang sama dia?”
Makanya aku bilang,
niatnya itu harus karena Tuhan. “Inni uhibbuki fillah” (Sesungguhnya aku
mencintaimu karena Allah).
Cinta dan benci pada orang
lain dibangun karena Tuhan, bukan karena kesenangan dunia.
Terus gimana ? gue udah
berusaha lupa tapi gak bisa. Setiap dia dateng lagi, gue luluh. Gue biarin dia
masuk ke hati gue, di rapihin tapi annti di acak-acak sama dia sendiri dan
pergi lagi.
Niatnya kan ngelupain,
jangan pernah berusaha buat ngelupain seseorang. Semakin berusaha lupa semakin
sering dia akan muncul di pikiran.
Biarin aja dia datang
dengan sendirinya ke pikiran kamu, terus pergi. Anggap aja angin lalu.
Kamu harus bisa kuat. Dia
gak boleh sakitin hati kamu lagi. Kamu masih punya hati untuk di jaga dengan
baik dan dihargai.
Ikhlasin aja yang udah
pergi dan doakan yang terbaik buat dia.
“Seseorang
datang di kehidupan kita ada 2 makna. Salah satu nya dia mungkin yang akan
menemani kita sampai maut yang memisahkan atau makna lainnya adalah dia datang
dan akhirnya pergi sehingga memberi satu pelajaran yang berarti dan salah satu
warna dari sekian banyak warna di kehidupan kita”
Terus gimana sama cinta
pertama? Bukannya bahagia malah penuh tangis? Dan cinta pertama itu susah di
lupain. Apalagi kenangannya.
Kadang, kita itu Cuma kangen
kenangannya aja. bukan kangen sama orangnya.
Dan buat cinta pertama,
sedih lah pasti sedih banget kalo endingnya malah sakit banget. Nunggu lama
tapi malah gak jadian.
Deket juga tapi gak
jadian.
Sampai bertahun-tahun
stuck di satu orang yang katanya sih cinta pertama, sampai ada orang lain yang
mau masuk aja gak kamu izinin karena hati kamu udah buat si cinta pertama itu.
Tapi buat apa? Menata hati dengan rapih sedangkan orang yang kamu tunggu gak
tau kalau kamu udah siapin tempat yang rapih banget buat dia.
Makanya kalo suka sama
orang bilang aja, jangan di pendem. itu yang buat kamu akan sakit seumur hidup.
Sampai nanti kamu punya
suami pun akan kasihan, dia gak dapet cinta kamu seutuhnya.
Tuhan pun pasti gak dapet
cinta itu.
Tuhan tau kok apa yang
kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan. Mau do’a sambil menangis pun hanya
untuk bersanding dengan si cinta pertama tapi kalau Tuhan bilang tidak? tetap
tidak. dan tidak mungkin kamu jadi sama dia, kamu gak akan bisa sama dia.
“Tuhan tau
apa yang kamu tidak tau, Tuhan yang mengetahui segala isi hati, segala isi
langit dan bumi”
Kayaknya Cuma
segini aja yang bisa di sampaikan, entah suka atau gak suka ya itu hak nya
pembaca. Kalau ada salah ya dimaafin tertuma masalah hadits hadits nya
hahahaha.
Gak ada
yang baca sih kayaknya. Bukan maksud sok pinter atau apa, mau ngajarin atau
gimana, sok bijak atau gimana.
Tapi buat
temen-temen aku nangis karena cowok yang pacar kalian aja bukan, suami juga
bukan. Air mata kalian itu berharga, di balik pipi yang basah karena air mata
ada bedak, ada pensil alis, eyeshadow, eyeliner dan lipstick yang harganya
mahal. -__-
No comments:
Post a Comment