Dia duduk di atas kasurnya dengan
sandaran bantal di belakang punggungnya, laptop di kedua kakinya yang
berselimutkan hangat, menahan rasa sesak yang sejak kemarin menyiksa dada nya,
kipas angin yang berhempus pelan di depannya, suara kicauan burung yang
terdengar dari luar jendelanya. Dia masih disini, di ruangan yang menjadi saksi
bisu apa yang dia rasakan atau yang dia lakukan.
Keadaan nya sedang tidak
memungkinkan dia untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, seperti kuliah
misalnya. Sudah seminggu ini badannya seakan menyusut perlahan menjadi kecil,
terlihat seperti tidak ada cadangan lemak di dalam tubuhnya. Dan dia bersyukur
masih di beri kesempatan untuk dapat memegang laptop lagi pagi ini walaupun
sesak menggerogoti pernafasannya.
Dia mencari sebuah inspirasi untuk
kembali menulis sesuatu di blog nya, berkali-kali dia menulis lalu di hapus nya
tulisan itu, menulis lagi dan kembali lagi di hapus sampai dia benar-benar
tidak mood lagi untuk menulis.
Dia keluar kamar mencoba mencari
udara segar, berharap sesak nya hilan tapi tetap saja, rasa sesak itu masih
ada. Dia mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalamnya, berharap
mendapat kelegaan setidaknya untuk mengurangi sedikit rasa sesaknya. Dan ternyata
lebih baik, dia kembali keluar memandang langit berwarna gelap dengan perpaduan
jingga yang tidak terlalu begitu banyak. Jingga nya bagus, tapi dominan warna
gelap di atas sana. “sepertinya akan turun hujan lagi” pikirnya. Dia terus
memandangi langit sampai bosan dan berjalan lagi kembali ke kamarnya. Di meja
makan itu dia melihat gelas yang di pakainya untuk minum tadi, sejenak berpikir
dan mulai mendapat inspirasi untuk menulis lagi di blog yang tidak akan pernah
terbaca oleh siapapun.
Seperti warnanya yang bening dan bentuk nya biasa
namun terkesan mewah
Para pengrajin kaca itu membuat karya-karya yang
tidak semua orang tidak memilikinya
Di setiap rumah, karya-karya itu di tata sedemikian
rupa
Digunakan untuk menjamu tamu
Atau digunakan untuk diri sendiri
Karya itu tidak akan pernah lepas dari yang namanya
air
Iya air..
Pelengkap karya pengrajin itu
Saling mengisi, sehingga ada sesuatu yang dapat
dinikmati selain keindahan karya si pengrajin kaca.
Mereka menyebutnya gelas..
Lebih tepatnya gelas-gelas kaca.
Cantik, indah, beraneka ragam bentuknya, terlihat
kokoh, namun mudah pecah.
Dia bisa hancur berkeping-keping, dan tak akan bisa
menyatukannya.
Pengrajin kaca pun mungkin tidak bisa.
Saat gelas itu pecah, ada yang akan terluka karena
membersihkan serpihan itu.
Banyak dari serpihan yang akan hilang, walaupun di
satukan kembali rasanya tak akan sama.
Hingga akhirnya, mereka mengambil gelas yang baru
dan membuang gelas yang lama.
Sama saja rasanya, toh juga masih sama-sama terbuat
dari kaca.
Yang dibuat oleh pengrajin kaca.
Yang masih tetap indah.
Tapi ternyata, tetap tak sama
Apapun itu tak akan sama.
Akan ada perubahan,
Walaupun perubahan itu menjadi teramat baik, tetap
tak akan sama.
Apalagi, jika menjadi lebih buruk, tetap tak akan
sama.
Tidak peduli seseorang mengatakan,
Gunung es saja bisa meleleh apalagi hati yang keras?
Bukankah keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan?
Kesempatan yang diberikan bisa saja berkali-kali,
tapi apapun itu.
Semua tak sama.
Tak pernah sama.
Apa yang mereka sentuh
Apa yang mereka rasakan.
Sesaknya semakin menjadi, memutuskan
dia untuk menghentikan hobi menulis nya ini dan mulai untuk berbaring lagi.
No comments:
Post a Comment