Friday, January 16, 2015

Tak Sama


Dia duduk di atas kasurnya dengan sandaran bantal di belakang punggungnya, laptop di kedua kakinya yang berselimutkan hangat, menahan rasa sesak yang sejak kemarin menyiksa dada nya, kipas angin yang berhempus pelan di depannya, suara kicauan burung yang terdengar dari luar jendelanya. Dia masih disini, di ruangan yang menjadi saksi bisu apa yang dia rasakan atau yang dia lakukan.
Keadaan nya sedang tidak memungkinkan dia untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, seperti kuliah misalnya. Sudah seminggu ini badannya seakan menyusut perlahan menjadi kecil, terlihat seperti tidak ada cadangan lemak di dalam tubuhnya. Dan dia bersyukur masih di beri kesempatan untuk dapat memegang laptop lagi pagi ini walaupun sesak menggerogoti pernafasannya.
Dia mencari sebuah inspirasi untuk kembali menulis sesuatu di blog nya, berkali-kali dia menulis lalu di hapus nya tulisan itu, menulis lagi dan kembali lagi di hapus sampai dia benar-benar tidak mood lagi untuk menulis.
Dia keluar kamar mencoba mencari udara segar, berharap sesak nya hilan tapi tetap saja, rasa sesak itu masih ada. Dia mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalamnya, berharap mendapat kelegaan setidaknya untuk mengurangi sedikit rasa sesaknya. Dan ternyata lebih baik, dia kembali keluar memandang langit berwarna gelap dengan perpaduan jingga yang tidak terlalu begitu banyak. Jingga nya bagus, tapi dominan warna gelap di atas sana. “sepertinya akan turun hujan lagi” pikirnya. Dia terus memandangi langit sampai bosan dan berjalan lagi kembali ke kamarnya. Di meja makan itu dia melihat gelas yang di pakainya untuk minum tadi, sejenak berpikir dan mulai mendapat inspirasi untuk menulis lagi di blog yang tidak akan pernah terbaca oleh siapapun.

Seperti warnanya yang bening dan bentuk nya biasa namun terkesan mewah
Para pengrajin kaca itu membuat karya-karya yang tidak semua orang tidak memilikinya
Di setiap rumah, karya-karya itu di tata sedemikian rupa
Digunakan untuk menjamu tamu
Atau digunakan untuk diri sendiri
Karya itu tidak akan pernah lepas dari yang namanya air
Iya air..
Pelengkap karya pengrajin itu
Saling mengisi, sehingga ada sesuatu yang dapat dinikmati selain keindahan karya si pengrajin kaca.
Mereka menyebutnya gelas..
Lebih tepatnya gelas-gelas kaca.
Cantik, indah, beraneka ragam bentuknya, terlihat kokoh, namun mudah pecah.
Dia bisa hancur berkeping-keping, dan tak akan bisa menyatukannya.
Pengrajin kaca pun mungkin tidak bisa.
Saat gelas itu pecah, ada yang akan terluka karena membersihkan serpihan itu.
Banyak dari serpihan yang akan hilang, walaupun di satukan kembali rasanya tak akan sama.
Hingga akhirnya, mereka mengambil gelas yang baru dan membuang gelas yang lama.
Sama saja rasanya, toh juga masih sama-sama terbuat dari kaca.
Yang dibuat oleh pengrajin kaca.
Yang masih tetap indah.
Tapi ternyata, tetap tak sama
Apapun itu tak akan sama.
Akan ada perubahan,
Walaupun perubahan itu menjadi teramat baik, tetap tak akan sama.
Apalagi, jika menjadi lebih buruk, tetap tak akan sama.
Tidak peduli seseorang mengatakan,
Gunung es saja bisa meleleh apalagi hati yang keras? Bukankah keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan?
Kesempatan yang diberikan bisa saja berkali-kali, tapi apapun itu.
Semua tak sama.
Tak pernah sama.
Apa yang mereka sentuh
Apa yang mereka rasakan.


Sesaknya semakin menjadi, memutuskan dia untuk menghentikan hobi menulis nya ini dan mulai untuk berbaring lagi.

No comments:

Post a Comment

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...