Terkadang hidup itu seperti ini,
Ada yang mempertahankan sedangkan yang di
pertahankan itu ingin pergi.
Ada yang ingin pergi sedangkan hati nya ragu.
Ada yang ragu tetapi hatinya memilih untuk pergi.
Ada yang pergi dan datang lagi, ada juga yang pergi
dan ia benar-benar pergi.
Berharap kembali, tapi ternyata hatinya begitu kuat
untuk memilih pergi.
Sedangkan tangis orang-orang yang tidak ingin ia
pergi tak di hiraukannya.
Banyak alasannya,
Mungkin salah satunya adalah, dia tidak ingin
mengecewakan orang lain.
Jika dia mengecewakan orang lain, orang itu yang
pergi. Jadi dia memilih pergi.
Ada juga alasan yang seperti ini, karena terlalu
sayang jadi pergi.
Karena dia tahu, suatu saat orang yang dia sayang
akan pergi, entah itu pergi dengan sendirinya, di ambil orang lain atau
Tuhan.
Dia tidak ingin merasakan sakit nya ditinggal oleh
orang yang dia sayang, makanya dia pergi.
Mungkin alasan yang terakhir adalah, karena dia
lelah.
Lelah merasakan kecewa.
Kecewa karena selalu memasuki rumah yang ternyata
pintunya pura-pura di buka.
Memaksa masuk untuk bertamu, ternyata sang pemilik
rumah tidak menerima tamu.
Makanya dia pergi.
Entah ada alasan lain atau tidak, setidaknya ini
yang ada di dalam pikiran dia.
Dia duduk manis merenung melihat langit gelap tanpa
sinar bintang ataupun bulan, berharap cerita dongeng yang selalu dia dengar
tentang indahnya langit kala malam terjadi pada malam ini.
Namun tidak, dongeng hanyalah dongeng.
Dia memainkan jari-jari nya, kebosanan sudah mulai
menemaninya di malam ini.
Dia masih berkutat dengan fikirannya, yang mungkin
tidak penting untuk orang lain.
Pikiran bodoh, yang selalu memikirkan kenapa orang
lain harus pergi?.
Kenapa selalu ada istilah, orang-orang datang untuk
pergi lagi?
Dan kenapa harus ada pertemuan sedangkan pada
akhirnya ada yang namanya perpisahan?
Tuhan selalu punya rencana yang baik, teramat baik.
Sampai kita pun tidak bisa menduga apa akhir dari rencana-Nya tersebut.
Dia masih duduk memandang langit, masih berharap
cerita dongeng tentang langit itu nyata.
Masih berkutat dengan pikiran-pikiran bodohnya itu.
No comments:
Post a Comment