Sunday, December 14, 2014

Ada yang mempertahankan sedangkan yang di pertahankan itu ingin pergi?

Terkadang hidup itu seperti ini,
Ada yang mempertahankan sedangkan yang di pertahankan itu ingin pergi.
Ada yang ingin pergi sedangkan hati nya ragu.
Ada yang ragu tetapi hatinya memilih untuk pergi.
Ada yang pergi dan datang lagi, ada juga yang pergi dan ia benar-benar pergi.
Berharap kembali, tapi ternyata hatinya begitu kuat untuk memilih pergi.
Sedangkan tangis orang-orang yang tidak ingin ia pergi tak di hiraukannya.
Banyak alasannya,
Mungkin salah satunya adalah, dia tidak ingin mengecewakan orang lain.
Jika dia mengecewakan orang lain, orang itu yang pergi. Jadi dia memilih pergi.
Ada juga alasan yang seperti ini, karena terlalu sayang jadi pergi.
Karena dia tahu, suatu saat orang yang dia sayang akan pergi, entah itu pergi dengan sendirinya,  di ambil orang lain atau Tuhan.
Dia tidak ingin merasakan sakit nya ditinggal oleh orang yang dia sayang, makanya dia pergi.
Mungkin alasan yang terakhir adalah, karena dia lelah.
Lelah merasakan kecewa.
Kecewa karena selalu memasuki rumah yang ternyata pintunya pura-pura di buka.
Memaksa masuk untuk bertamu, ternyata sang pemilik rumah  tidak menerima tamu.
Makanya dia pergi.
Entah ada alasan lain atau tidak, setidaknya ini yang ada di dalam pikiran dia.

Dia duduk manis merenung melihat langit gelap tanpa sinar bintang ataupun bulan, berharap cerita dongeng yang selalu dia dengar tentang indahnya langit kala malam terjadi pada malam ini.
Namun tidak, dongeng hanyalah dongeng.
Dia memainkan jari-jari nya, kebosanan sudah mulai menemaninya di malam ini.
Dia masih berkutat dengan fikirannya, yang mungkin tidak penting untuk orang lain.
Pikiran bodoh, yang selalu memikirkan kenapa orang lain harus pergi?.
Kenapa selalu ada istilah, orang-orang datang untuk pergi lagi?
Dan kenapa harus ada pertemuan sedangkan pada akhirnya ada yang namanya perpisahan?

Tuhan selalu punya rencana yang baik, teramat baik. Sampai kita pun tidak bisa menduga apa akhir dari rencana-Nya tersebut.


Dia masih duduk memandang langit, masih berharap cerita dongeng tentang langit itu nyata.

Masih berkutat dengan pikiran-pikiran bodohnya itu.

No comments:

Post a Comment

Kita

Pagi terlalu dini untuk hati yang ingin pergi Siang terlalu terik untuk hati yang tercabik Malam terlalu larut untuk hati yang kalut Pun...